KIRAB BUDAYA TATAR SUNDA "BINOKASIH MULANG SALAKA"

Di tanah yang kini dikenal sebagai Karawang, jejak sejarah Tatar Sunda terukir sejak ratusan tahun silam. Wilayah ini bukan hanya dikenal sebagai lumbung padi, tetapi juga menjadi saksi perjalanan budaya, spiritualitas, dan perjuangan para leluhur Sunda. Dari tanah inilah lahir kisah besar yang terus dikenang dalam Kirab Budaya Tatar Sunda “Binokasih Mulang Salaka”.

Konon, pada masa Kerajaan Sunda, mahkota Binokasih menjadi lambang kehormatan, persatuan, dan kebesaran para raja Sunda. Mahkota tersebut diwariskan turun-temurun sebagai simbol amanah untuk menjaga rakyat dan budaya Sunda. Kata “Binokasih” memiliki makna kasih sayang dan kebijaksanaan, sedangkan “Mulang Salaka” dimaknai sebagai kembalinya warisan leluhur kepada tanah asal peradaban Sunda.

Karawang dipilih sebagai salah satu pusat kirab budaya karena wilayah ini memiliki hubungan erat dengan sejarah penyebaran Islam dan perjalanan kerajaan Sunda. Di kawasan ini berdiri Masjid Agung Karawang, salah satu masjid tertua di tanah Jawa yang menjadi simbol pertemuan budaya Sunda dan nilai-nilai Islam.

Dalam cerita rakyat Sunda, Karawang juga dikaitkan dengan pertemuan bersejarah antara Prabu Siliwangi atau Raden Pamanah Rasa dengan Nyai Subang Larang, seorang perempuan cerdas dan religius yang merupakan murid Syekh Quro. Dari hubungan itulah lahir keturunan yang kelak menjadi bagian penting sejarah Sunda dan Cirebon.

Syekh Quro sendiri dikenal sebagai ulama besar yang menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan budaya dan kedamaian. Ia mendirikan pesantren di Karawang dan mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat tanpa menghilangkan adat Sunda yang sudah hidup sejak lama. Karena itu, Karawang menjadi tempat bertemunya nilai agama, budaya, dan peradaban.

Tak hanya itu, Karawang juga memiliki hubungan dengan tokoh besar Raden Adipati Singaperbangsa, pemimpin yang dikenal sebagai pejuang dan pendiri pemerintahan Karawang. Namanya menjadi simbol keberanian dan persatuan masyarakat Sunda di wilayah pesisir utara Jawa Barat.

Kirab Budaya Tatar Sunda “Binokasih Mulang Salaka” kemudian hadir sebagai upaya menghidupkan kembali semangat persatuan Sunda. Kirab ini bukan sekadar arak-arakan budaya, melainkan perjalanan spiritual dan penghormatan terhadap warisan leluhur. Ribuan masyarakat mengenakan pakaian adat Sunda, membawa panji-panji budaya, alat musik tradisional, hingga simbol kerajaan sebagai bentuk penghormatan kepada sejarah.

Melalui kirab tersebut, masyarakat diajak untuk kembali mengenal akar budayanya, menjaga nilai gotong royong, silih asah, silih asih, dan silih asuh yang menjadi falsafah hidup orang Sunda. Semangat “Satu Budaya, Satu Sunda, Satu Indonesia” menjadi pesan bahwa budaya Sunda bukan hanya kebanggaan daerah, tetapi juga bagian penting dari kekayaan budaya Nusantara.

Hingga kini, cerita Binokasih Mulang Salaka tetap hidup di tengah masyarakat sebagai pengingat bahwa warisan budaya harus dijaga, dirawat, dan diwariskan kepada generasi mendatang agar jati diri Sunda tetap lestari sepanjang zaman.

Penulis : Arief Rachman