Kirab Budaya Tatar Sunda “Binokasih Mulang Salaka” Hidupkan Spirit Leluhur Sunda di Karawang

Karawang – Semangat pelestarian budaya Sunda kembali bergema di Kabupaten Karawang melalui kegiatan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda bertajuk “Nyuhun Buhun, Nata Nagara” yang akan digelar pada Sabtu malam, 9 Mei 2026 mulai pukul 19.30 WIB hingga selesai. Kegiatan budaya sarat nilai sejarah tersebut menjadi momentum penting untuk mengenang warisan leluhur Sunda sekaligus memperkuat identitas budaya di tengah perkembangan zaman modern.

Kegiatan kirab budaya ini mendapat dukungan penuh dari Bupati Karawang Aep Syaepuloh bersama Wakil Bupati Karawang Maslani sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menjaga dan melestarikan budaya Sunda agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Kirab Budaya Tatar Sunda “Binokasih Mulang Salaka” bukan sekadar arak-arakan tradisional, melainkan perjalanan spiritual dan penghormatan terhadap sejarah panjang peradaban Sunda. Di tanah Karawang yang dikenal sebagai lumbung padi nasional, tersimpan jejak besar perjalanan budaya, kerajaan, hingga penyebaran Islam di tanah Sunda.

Dalam sejarah Sunda, mahkota Binokasih dikenal sebagai simbol kehormatan, persatuan, dan kebesaran kerajaan Sunda. Mahkota tersebut diwariskan secara turun-temurun sebagai amanah bagi para pemimpin untuk menjaga rakyat, adat, dan budaya Sunda. Nama “Binokasih” melambangkan kasih sayang dan kebijaksanaan, sedangkan “Mulang Salaka” dimaknai sebagai kembalinya warisan leluhur kepada tanah asal peradaban Sunda.

Karawang dipilih menjadi salah satu pusat pelaksanaan kirab budaya karena memiliki hubungan erat dengan perjalanan sejarah Sunda dan penyebaran Islam di Jawa Barat. Di wilayah ini berdiri Masjid Agung Karawang yang dikenal sebagai salah satu masjid tertua di tanah Jawa dan menjadi simbol harmonisasi budaya Sunda dengan nilai-nilai Islam.

Sejarah Karawang juga erat kaitannya dengan kisah Prabu Siliwangi atau Raden Pamanah Rasa dengan Nyai Subang Larang, seorang perempuan religius yang merupakan murid dari Syekh Quro. Dari hubungan bersejarah tersebut lahir keturunan yang kemudian memiliki pengaruh besar dalam perjalanan sejarah Sunda dan Cirebon.

Syekh Quro sendiri dikenal sebagai ulama besar yang menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya dan kedamaian. Ia mendirikan pesantren di Karawang serta mengajarkan nilai agama tanpa menghapus adat Sunda yang telah hidup di tengah masyarakat. Dari sinilah Karawang tumbuh sebagai ruang pertemuan antara budaya, spiritualitas, dan peradaban.

Selain itu, Karawang juga memiliki hubungan sejarah dengan Raden Adipati Singaperbangsa yang dikenal sebagai tokoh pejuang dan pendiri pemerintahan Karawang. Sosoknya hingga kini menjadi simbol keberanian, persatuan, dan semangat perjuangan masyarakat Sunda di wilayah pesisir utara Jawa Barat.

Melalui Kirab Budaya Tatar Sunda “Binokasih Mulang Salaka”, masyarakat diajak kembali mengenal akar budayanya serta menjaga nilai-nilai luhur Sunda seperti silih asah, silih asih, dan silih asuh. Ribuan peserta diperkirakan akan mengenakan pakaian adat Sunda sambil membawa panji budaya, alat musik tradisional, hingga simbol-simbol kerajaan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Semangat “Satu Budaya, Satu Sunda, Satu Indonesia” menjadi pesan utama dalam kegiatan tersebut. Budaya Sunda dinilai bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Barat, tetapi juga bagian penting dari kekayaan budaya Nusantara yang harus dijaga bersama.

Kirab budaya ini diharapkan menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa warisan budaya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan identitas yang harus terus dirawat dan diwariskan agar jati diri Sunda tetap lestari sepanjang zaman.

Penulis : Arief Rachman