KARAWANG — Semangat menjaga kecintaan terhadap Persib Bandung sekaligus merawat nilai-nilai budaya Sunda menjadi fondasi berdirinya komunitas Bobotoh Kolot. Organisasi yang menghimpun para pecinta Persib berusia 35 tahun ke atas tersebut resmi berdiri pada 10 Desember 2025.
Ketua Umum Bobotoh Kolot, Yuki Heryana Sunarjawinata, mengungkapkan, gagasan membentuk wadah tersebut sebenarnya telah muncul sejak lama. Namun, berbagai kesibukan pekerjaan membuat rencana tersebut beberapa kali tertunda.
“Dulu belum ada legalitas dan belum ada yang mengurusnya. Tahun 2005 saya sempat ingin mengembangkan dan mendirikan Bobotoh Kolot, tetapi saat itu saya masih bekerja di Jakarta dan harus bolak-balik Jakarta. Tahun 2016 kembali muncul keinginan untuk membentuknya, tetapi kembali tertunda,” ujar Yuki.
Kesempatan untuk merealisasikan gagasan tersebut baru terbuka setelah dirinya memasuki masa pensiun pada 2024. Ia kemudian memutuskan untuk fokus menyelesaikan sejumlah rencana yang selama ini tertunda, salah satunya mendirikan Bobotoh Kolot.
Menurutnya, proses pembentukan organisasi tersebut tidak berlangsung singkat. Selama kurang lebih satu tahun, dilakukan berbagai riset dan persiapan hingga akhirnya Bobotoh Kolot resmi berdiri.
“Setelah saya pensiun pada 2024, saya fokus pada sesuatu yang tertunda, salah satunya mendirikan Bobotoh Kolot. Kurang lebih satu tahun prosesnya dan tidak mudah. Akhirnya Bobotoh Kolot resmi berdiri pada 10 Desember 2025,” katanya.
Berawal dari Tiga Inisiator
Yuki menjelaskan, Bobotoh Kolot pada awalnya hanya digagas oleh tiga orang, yakni dirinya bersama Kang Yasmin dan Kang Wahyu.
Ketiganya kemudian mengumpulkan 20 orang untuk masuk dalam badan pendiri. Dari jumlah tersebut, 17 orang lainnya bergabung bersama tiga inisiator sebagai bagian dari badan pendiri.
Setelah itu, proses pengembangan keanggotaan terus dilakukan. Jumlah anggota berkembang menjadi sekitar 50 orang. Momentum pertumbuhan signifikan terjadi setelah komunitas tersebut mendapat kesempatan berkumpul dalam sebuah kegiatan yang melibatkan salah satu stasiun televisi.
“Ketika 50 member itu berkumpul di sana, setelah pulang ternyata jumlah orang yang ingin mendaftar melonjak. Sebelum bulan puasa, sekitar seminggu sebelum puasa, jumlahnya meningkat menjadi sekitar 300 sampai 400 orang,” ungkapnya.
Pertumbuhan tersebut kemudian terus berlanjut. Hingga saat ini, jumlah anggota Bobotoh Kolot telah mencapai sekitar 2.036 orang.
Bukan Sekadar Komunitas Suporter
Yuki menegaskan, Bobotoh Kolot tidak dibentuk sekadar sebagai wadah berkumpulnya suporter Persib. Organisasi tersebut membawa misi membangun karakter suporter yang lebih dewasa, bijaksana, bermartabat sekaligus tetap mencintai budaya Sunda.
“Secara garis besar, Bobotoh Kolot adalah supporter pecinta Persib yang berusia 35 tahun ke atas, yang mempunyai sifat dewasa, bijak dan bermartabat,” jelasnya.
Selain itu, Bobotoh Kolot menjadikan nilai-nilai budaya Sunda sebagai salah satu identitas utama organisasi, khususnya filosofi silih asah, silih asih, dan silih asuh.
Yuki menilai, derasnya pengaruh budaya luar di lingkungan stadion perlu diimbangi dengan penguatan budaya lokal. Karena itu, Bobotoh Kolot ingin mengambil peran sebagai pengingat bagi para suporter, khususnya generasi yang lebih muda.
“Budaya Sunda mempunyai filosofi silih asah, silih asih, silih asuh. Saya melihat di dalam stadion begitu kencang budaya Barat masuk. Saya ingin Bobotoh Kolot menjadi pangeling, menjadi pengingat bagi dulur-dulur dan adik-adik kita,” katanya.
Menurutnya, menjaga budaya merupakan tanggung jawab bersama. Bobotoh Kolot ingin menunjukkan bahwa kecintaan terhadap Persib dapat berjalan beriringan dengan sikap santun, dewasa dan berbudaya.
“Budaya itu siapa lagi yang menjaga kalau bukan kita,” tegasnya.
Sembilan Distrik Telah Deklarasi
Perkembangan Bobotoh Kolot juga ditandai dengan semakin luasnya pembentukan distrik di berbagai daerah.
Yuki menyebut deklarasi yang berlangsung saat ini merupakan deklarasi distrik yang kesembilan. Selain itu, telah terbentuk lima wilayah koordinator atau korwil.
Sejumlah daerah di Jawa Barat yang masih dalam tahap persiapan pembentukan distrik di antaranya Sukabumi, Subang, Majalengka, Cirebon dan Pangandaran. Sementara Indramayu untuk sementara bergabung dengan Cirebon.
“Ini adalah deklarasi yang kesembilan. Distrik, ya. Korwil sudah lima. Sisanya di Jawa Barat ada lima distrik lagi, yaitu Sukabumi, Subang, Majalengka, Cirebon dan Pangandaran. Mereka sudah siap-siap,” ujarnya.
Tidak hanya berkembang di Jawa Barat, jaringan Bobotoh Kolot juga mulai menjangkau sejumlah daerah di Indonesia, antara lain Banten, Palu, Borneo, Lombok, Batam dan Aceh.
Bahkan, komunitas tersebut telah memiliki anggota di luar negeri, seperti Singapura, Arab Saudi, Jepang dan Manchester, Inggris. Dua wilayah lainnya yang baru masuk dalam rekapitulasi adalah Montenegro dan Norwegia.
Target 5.000 Anggota
Dengan pertumbuhan anggota yang cukup pesat, Bobotoh Kolot memasang target mencapai 5.000 anggota hingga akhir 2026.
Saat ini jumlah anggota telah mencapai sekitar 2.036 orang. Namun, Yuki menegaskan bahwa pertumbuhan jumlah anggota bukan satu-satunya ukuran keberhasilan organisasi.
Menurutnya, setiap calon anggota harus melalui proses seleksi dan wawancara. Kebijakan tersebut diberlakukan agar Bobotoh Kolot memiliki karakter dan kualitas anggota sesuai dengan nilai yang dibangun sejak awal.
“Untuk masuk Bobotoh Kolot ada interview. Tidak serta-merta hanya membuka link lalu langsung masuk. Karena kami ingin Bobotoh Kolot menjadi contoh, menjadi contoh bagi adik-adik dan saudara-saudara kita,” tuturnya.
Ia menilai mekanisme tersebut menjadi salah satu pembeda Bobotoh Kolot dengan komunitas suporter lainnya. Organisasi tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi juga berupaya membangun kualitas serta karakter anggotanya.
Gardana Jadi Garda Terdepan
Untuk menjaga ketertiban dan mengawal nilai-nilai yang dibangun organisasi, Bobotoh Kolot juga memiliki Tim Gardana yang berfungsi sebagai garda terdepan.
Tim tersebut diharapkan mampu membantu memproteksi serta menjaga perilaku anggota dan supporter agar tetap berada dalam koridor yang telah ditetapkan organisasi.
“Yang menjadi pembeda di kita adalah berbudaya, dengan Tim Gardana. Ada Tim Gardana di kita yang menjadi garda terdepan. Itu untuk memproteksi supporter-supporter yang dalam tanda kutip masih nakal,” jelas Yuki.
Dengan konsep tersebut, Bobotoh Kolot ingin menegaskan bahwa menjadi pendukung Persib tidak hanya soal fanatisme terhadap klub, tetapi juga tentang bagaimana menunjukkan sikap dewasa, menjaga persaudaraan, menghormati sesama suporter dan mempertahankan identitas budaya.
Yuki berharap Bobotoh Kolot dapat berkembang menjadi organisasi suporter yang mampu memberikan teladan positif bagi generasi berikutnya.
“Harapannya, Bobotoh Kolot bisa menjadi contoh. Bukan hanya sebagai supporter Persib, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang dewasa, bijak, bermartabat dan tetap memegang teguh budaya Sunda,” pungkasnya.
Penulis : Arief Rachman
