Deklarasi Bobotoh Distrik Karawang, Distrik Kesembilan, Tegaskan Komitmen Jaga Persatuan dan Kondusivitas

KARAWANG – Semangat memperkuat persaudaraan dan menjaga kondusivitas daerah menjadi pesan utama dalam deklarasi Bobotoh Distrik Karawang yang digelar pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Komunitas yang mewadahi para pecinta Persib Bandung tersebut resmi menjadi distrik kesembilan dalam jaringan Bobotoh Kolot Persib Bandung.

Ketua Bobotoh Distrik Karawang, Dudung Ridwan, menjelaskan bahwa terbentuknya Bobotoh Distrik Karawang berawal dari pertemuan para mantan suporter yang dahulu rutin berkumpul dan mendukung Persib di Stadion Si Jalak Harupat.

Menurut Dudung, pertemuan tersebut kemudian berkembang menjadi gagasan untuk membentuk wadah bagi para Bobotoh senior atau Bobotoh Kolot. Gagasan itu selanjutnya mendapat penguatan di tingkat pusat hingga disepakati pembentukan Bobotoh Kolot Persib Bandung, yang dipimpin Ketua Umum Kang Yuki.

“Bobotoh Distrik Karawang berawal ketika kita, para mantan-mantan suporter yang dulu di Stadion Si Jalak Harupat, berkumpul. Kemudian di pusat juga akhirnya disepakati untuk didirikan Bobotoh Kolot Persib Bandung, yang dikomandai oleh Ketua Umum Kang Yuki,” ujar Dudung.

Setelah organisasi di tingkat pusat terbentuk, pembentukan distrik di berbagai daerah menjadi bagian dari langkah memperluas jaringan sekaligus memperkuat komunikasi antar-Bobotoh.

Dudung menyebut Kabupaten Karawang menjadi distrik kesembilan yang melaksanakan deklarasi. Sebelumnya, sejumlah daerah telah lebih dahulu membentuk distrik, di antaranya Garut dan Sumedang.

“Ketika di sana sudah dibentuk, otomatis harus didirikan juga distrik pada masing-masing kota dan kabupaten. Pada akhirnya, hari ini tanggal 8 Agustus 2026, kita adalah distrik yang kesembilan untuk deklarasi,” katanya.

Ia menambahkan, antusiasme Bobotoh di Karawang cukup tinggi. Hingga pelaksanaan deklarasi, jumlah anggota Bobotoh Distrik Karawang telah mencapai lebih dari 100 orang.

Jumlah tersebut melampaui persyaratan minimal keanggotaan untuk melaksanakan deklarasi, yakni sedikitnya 50 anggota.

“Jumlah anggota kita sudah lebih dari sekitar seratus. Memang ada syarat ketika deklarasi itu minimal harus 50 anggota baru kita bisa deklarasi,” ungkap Dudung.

Menurutnya, pembentukan distrik bukan semata-mata untuk memperkuat identitas komunitas suporter, tetapi lebih jauh menjadi sarana mempererat tali silaturahmi. Baginya, pertandingan sepak bola memiliki batas waktu, sementara persaudaraan harus terus dijaga tanpa mengenal batas waktu.

“Kalau pertandingan sepak bola itu 90 menit selesai, dua kali 45 menit selesai. Tapi silaturahmi itu harus tetap terjaga, persatuan harus tetap kita jaga,” tegasnya.

Dudung juga menekankan pentingnya menjaga situasi Karawang agar tetap aman dan kondusif. Ia berharap keberadaan Bobotoh Distrik Karawang dapat memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan, khususnya dalam membangun budaya suporter yang dewasa dan bertanggung jawab.

“Makanya tadi kita sama-sama, tanpa pakai integritas, kita sama-sama sebagai Bobotoh Kolot, kita jaga Karawang,” ujarnya.

Semangat tersebut menjadi bagian dari komitmen Bobotoh Distrik Karawang untuk menunjukkan bahwa kecintaan terhadap Persib tidak harus diwujudkan melalui fanatisme berlebihan. Sebaliknya, dukungan terhadap klub kebanggaan dapat berjalan beriringan dengan nilai persaudaraan, toleransi, dan kepedulian terhadap daerah.

Dudung juga menyampaikan bahwa aktivitas deklarasi Bobotoh Kolot terus berlanjut di sejumlah daerah. Bahkan, setelah Karawang, agenda deklarasi berikutnya dijadwalkan berlangsung di Bogor.

Dengan terbentuknya Bobotoh Distrik Karawang, diharapkan komunitas ini mampu menjadi wadah silaturahmi bagi para Bobotoh lintas generasi sekaligus menjadi bagian dari kekuatan masyarakat dalam menjaga persatuan dan kondusivitas daerah.

Bagi Bobotoh Distrik Karawang, pertandingan boleh berakhir setelah peluit panjang berbunyi, tetapi persaudaraan dan silaturahmi harus tetap berjalan. Semangat tersebut menjadi fondasi dalam membangun budaya suporter yang semakin dewasa, solid, dan mampu memberikan warna positif bagi sepak bola Indonesia.

Penulis : Arief Rachman